Posted by: mgmpmatsmpktyk | January 3, 2009

SRI SULTAN HB IX DAN BAKUL BERAS

Andaikan pemimpin bisa seperti dia, tahu kemauan orang yang dipimpinnya, bersikap sopan dan santun terhadap yang lebih rendah, menghargai sesama manusia, ikhlas jiwa menolong tanpa berharap pujian, alangkah indahnya dunia ini.

“Suatu saat Sri Sultan pagi-pagi pulang dari Kaliurang dengan mengendarai Mobil Jeepnya sendiri.
Sampai di sekitar Medari (Sleman) beliau disetop oleh perempuan tua, seorang bakul beras. Sri Sultan pun segera memberhentikan mobilnya, seraya menyapa dengan ramah. “Ada apa mbok?” – “Tolong mas angkatkan beras ini saya mau ke Jogya”, ujar mbok bakul beras bersahabat.

Dengan tersenyum Sri Sultan turun dari mobilnya, dan mengangkat beras itu ke dalam mobilnya sendirian. Tanpa dipersilahkan masuk Si Embok Bakul Beras itu pun segera membuka pintu dan duduk di samping sopir, sebagaimana kebiasaan dia setiap hari dengan sopir-sopir yang lain.

Sambil ceritera kesana kemari, sambil makan sirih si Embok disambut dengan ramah oleh Sri Sultan sepanjang perjalanan. Tanpa terasa sampailah kendaraan yang disopiri seorang “Raja” ini di depan Pasar Bering Harjo, Jogyakarta.

Si Embok pun bergegas menyuruh Sri Sultan menurunkan beras itu, dan dengan tetap menunjukkan sikap yang sopan Sri Sultan pun menurunkan beras itu dengan baik.

Kini tiba gilirannya si Embok Beras mencari uangnya yang dibundel di selendang atau ujung setagennya (detailnya penulis tidak tahu, tetapi yang jelas memerlukan waktu yang lama).

Ketika si Embok sedang sibuk menyiapkan uang untuk membayar Sang Sopir istimewa tadi, mobil pun segera meluncur. Apa yang terjadi dengan si Embok Bakul Beras? Ia justru mengomel: “Sopir ini bagaimana to, orang baru diambilkan uang kok langsung bablas pergi, kalau kurang uang mbok ya ngomong, apa saya dianggap tidak bisa bayar!”

Ketika sedang sibuk ngomel, maka datanglah seorang Polisi, yang sedang berjaga di pos, menghampiri si Embok Bakul, seraya bertanya: “mBok ada apa, kok sepertinya marah-marah? Embok ketemu beliau di mana?” Si Embok tidak mennjawab keseluruhan pertanyaan pak Polisi, tetapi setengah khawatir dia menyatakan bahwa Ia mau bayar, bukan mau ngemplang. “Itu tadi lho pak, pak Sopir tadi kok nylonong saja, saya kan mau bayar, tapi entah lupa atau kurang bayarannya kok terus pergi begitu saja, saya kan malu, sama orang-orang yang jualan di sini, dikira saya nggak mau bayar?”

Jawab pak Polisi: “mbok…., tadi yang kamu tumpangi itu bukan sopir, tetapi Sri Sultan Hamengku Buwono, lihat tadi mobilnya kan AB no. 1”

Sepontan mbok bakul beras terperanjat, bagaikan disambar geledek. Kekagetan yang luar biasa yang tidak pernah dialami sepanjang hidupnya. Kemudian ia berteriak histeris: “Aduuuh Gustiiiii”, selanjutnya badannya gontai dan terus pingsan. Dia merasakan rajanya yang sangat dihormati, sangat dicintai, yang senantiasa disembah-sembah, diagung-agungkan, kenapa disuruhnya ngangkat beras, kenapa beliau mau….., kenapa beliau tidak marah…, tidak membentaknya. Ini yang menjadikan penyesalan sang Embok Bakul beras, sehingga pingsan.

Sesuatu yang perlu kita pertanyakan kepada diri kita:
“Apakah dengan berbuat seperti itu Sri Sultan turun derajadnya?”
“Apakah dengan berbuat seperti itu kecintaan rakyat Jogya (terutama) terhadap Sri Sultan luntur?”
” Apakah perbuatan Sri Sultan membantu orang kecil, miskin, menjadi terhina?”

Sayang saya yang senantiasa menganggap beliau sebagai pahlawan kemanusiaan, tetapi nama beliau tidak tercatat sebagai Pahlawan Nasional.

Tetapi pertanyaannya adalah: Apakah Sri Sultan menginginkan menjadi seorang pahlawan/” – Jawabannya tentu saja tidaaak!

Siapa yang akan meniru jejak luhur ini??

Tangan perkasamu yang terulur,
Menuntun si keriput, dan tua renta,
Senyumanmu yang ikhlas, bisa menghibur rakyat yang berduka.
Kebijakanmu mempersatukan seluruh Pandu,
Pertanda kesetiaanmu kepada Negara.

Engkau memang bukan pahlawan yang namamu terukir di batu pualam,
Tetapi engkau pahlawan yang namamu terukir di kalbu

Salam kepada sahabat

JOKO MURSITHO


Responses

  1. Kami punya artikel & ilustrasi (komik) menarik mengenai Sri Sultan HB-IX berdasarkan buku Tahta Untuk Rakyat.

    All created by us, TRUI (Tim Relawan Untuk Indonesia) lihat rubrik “A King For My President” di Blog Kami.

    http://relawanuntukindonesia.wordpress.com/

    Salam TRUI!

  2. Saya menjuluki beliau sebagai pahlawan ketatanegaraan ………. yang pernah dimiliki Republik………….. Sebagai bukti berdirinya Pemerintahan Desa/Kalurahan di-Yogyakarta.

  3. Beliau seorang Negarawan yang memandang kekuasaan merupakan takdir hidup yang harus dijalaninya, …………….maka beliau tidak pernah merasa sok berkuasa yang selalu minta diistimewakan………….bukan penakut maupun peragu, yang selau mencari perhatian dengan pencitraan diri………….beliau pernah ber-ucap…………..” Pertama-tama saya adalah orang Jawa dan selalu akan menjadi orang Jawa biarpun dari dahulu saya mendapat pendidikan belanda”……………..menyebut Jawa karena Republik Indonesia belum lahir…………… pernah menghadapi jendral spoor yang didampingi banyak sekali pasukan seorang diri,……………menjadi penjaga terakhir bayi NKRI, menolak diminta tidak memihak RI dengan diberi kekuasaan seluruh-Jawa Bali.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: